Google Menyerah dan Meninggalkan China

Akhirnya,Google menyerah dan meninggalkan China dengan mengalihkan server-nya ke Hong Kong. Walau Google hengkang dengan alasan memegang prinsip kebebasan, kepergiannya membuat Baidu berhasil memonopoli bisnis mesin pencari internet di Negeri Tembok Raksasa. Sebenarnya,Google bisa memiliki Baidu pada IPO tahun 2005, tapi mereka tidak mendengar penasihat keuangan untuk menaikkan tawaran US$ 2 miliar. Keputusan Google pada Maret 2010 untuk mengalihkan server-nya ke Hong Kong membawa angin baik bagi Baidu. 

Perpindahan itu didasari keinginan Google untuk tidak lagi menyensor berita sesuai prinsip kebebasan pers yang dianut pendirinya.Namun,keputusan ini diperkirakan akan membuat dominasi Google sebagai mesin pencari di China semakin mengecil. James Mitchell, analis Goldman Sachs, mengatakan, akses internet dari China ke server Google di Hong Kong akan lambat atau lebih buruk, tidak ada sama sekali. Inilah yang membuat Baidu bisa menikmati monopoli mesin pencari berbahasa China. 

Kompetitor lain tak ada yang menguasai lebih dari 1% pasar. Erick Schmidt, Chief Executive Officer (CEO) Google saat itu, sebenarnya sudah menyadari, keluarnya Google dari China akan membawa konsekuensi negatif. Oleh karena itu, ia berusaha membujuk dua pendiri Google, Sergei Brin dan Larry Page untuk memikirkan kembali keputusannya. Tapi, melalui Chief Legal Officer (CLO) David C. Drummond, Google bergeming. "Setelah beberapa tahun mencoba mematuhi hukum di China, kami menilai tidak konsisten dengan nilai yang kami anut," tandas Google. 

Sebetulnya, Baidu dan Google sudah menjalin hubungan sejak lama. Bahkan, pada 2004, Google menginvestasikan US$ 5 juta di Baidu. Ini adalah strategi Google agar ke depan situs pencari internet paling populer sejagad itu bisa mengakuisisi Baidu. Pada saat Baidu melakukan penawaran saham perdana alias IPO pada 2005, sebenarnya Google mengajukan tawaran akuisisi sebesar US$ 1,6 miliar. Tawaran Google itu pun mendapat sambutan dari Draper Fisher Jurvetson yang merupakan salah satu investor awal Baidu. Ia secara agresif melobi Baidu agar melepas sahamnya ke Google. 

Tetapi, Robin Li bekerja keras meyakinkan para anggota dewan direksi Baidu untuk tidak menerima pinangan Google. "Saat itu adalah periode yang membuat saya sangat stres," ungkap Robin. Akhirnya, anggota dewan direksi setuju dengan Robin. Apalagi, terdengar kabar Robin akan mundur demi menggagalkan lamaran Google. Menurut Asad Jamal, salah satu anggota dewan direksi Baidu, akuisisi Google akan berhasil jika mereka mengerek tawarannya menjadi US$ 2 miliar seperti yang disarankan penasihat keuangannya. 

Setelah gagal mengakuisisi Baidu, persaingan Google dan Baidu semakin keras. Bahkan, saat Brin dan Page ke Baidu pada akhir 2005, Robin sengaja menjadwalkan pertemuan tersebut pada hari libur nasional, sehingga mereka tidak mengetahui berapa insinyur yang dimiliki Baidu. Puncaknya, pada Februari 2010, Google mengalami percobaan hacking pada sistem surat elektronik atau email. Namun, runtuhnya dominasi Google di China membuat Brin dan Page berang. Mereka menuduh ada kongkalikong antara Baidu dan Pemerintah China. Apalagi pengguna internet di China yang mengetik Google.cn dialihkan ke situs Baidu. 

Schmidt bahkan pernah menyatakan, Pemerintah China sangat berpihak dan menguntungkan Baidu. Sebab, dibandingkan dengan Google, Baidu adalah anak yang baik. Atas permintaan Pemerintah China, para pengguna Baidu tidak akan dapat menemukan berita-berita politik yang sensitif mengenai Taiwan, Dalai Lama, peristiwa berdarah Tianmen, dan pornografi. (Selesai)

Sumber : kontan.co.id
Previous
Next Post »

2 komentar

Click here for komentar
7 September 2014 17.16 ×

Gapapalah sekali-kali kalah, biar google gak monopoli semuanya

Reply
avatar
Amad Soleh
admin
8 September 2014 02.35 ×

Harusnya indonesia juga bisa seperti china kang? Bisa boikot dan menolak. Hehehe

Reply
avatar